Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Sayangnya Begitu

        Seperti yang sudah kamu tahu, aku tahu, kamu bukan pelupa. Lebih dari itu, aku kenal kamu sebagai lelaki yang berani berpikir dan merasa. Maka, sungguh, aku sadar diri. Tulisan ini tak akan kamu beli. Tulisan ini terlalu miskin; tak punya cukup kata dan makna yang bisa membuatmu kaya dan gembira. Karenanya, aku tak perlu berharap ini dapat kamu baca, bukan? Karenanya, kini aku hanya berharap, aku dapat jujur. Aku paham, . Ini bukan waktuku untuk mengingatkan kamu - meskipun aku ingin - tentang bagaimana rasa asa dan doa yang pernah menghijau di sekujur kita. Tentang bagaimana kita meyakini, Tuhan akan segera merestui kita untuk berdua di semua masa. Ini waktuku untuk melepas rahasia, bahwa aku jatuh cinta.         Ya. Aku jatuh cinta. Sudah, masih, bahkan seperti tak tahu akhir. Aku ingin tak suka, sebab ia bekerja dengan cara menewaskan dan menghidupkan aku sekaligus. Ini bukan hanya soal se...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...