Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Akhir November Yang Mengharukan

Dipenghujung malam november.. Kau tau, aku dikejutkan sebuah kabar yg menyebalkan. Dimalam itu, aku diberitahu bahwa kau kini telah dekat dengan wanita yg lain. Sedang aku masih dalam keadaan sangat mengharapkanmu. Ini rasanya lebih sakit dari prasaan yg dulu pernah ada. Rasanya luka yg lalu pernah aku rasakan, kembali bertubi-tubi menyerang prasaanku lebih dalam lagi. Aku seperti kehilangan asa atas setiap pengharapan. Aku seperti tidak mendapatkan izin untuk mencintai siapapun. Aku seperti menyesali mengapa aku bisa menaruh hati sedalam ini, hingga akhirnya terluka dengan cara yang tragis ini. Entah siapa yang salah, aku atau kamu, atau dia. Aku yang terlalu bodoh, atau dia yang terlalu jahat, atau kamu yang terlalu tega. Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi kedua kalinya untukku, bahkan dengan orang yang berbeda. Dulu, Aku pernah menunggu orang hingga bertahun - tahun lamanya, sampai aku tak pernah membuka hati pada siapapun, sampai aku rapuh dan jatuh, dan tak ada ya...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...

Ingin Berdua

  Aku tau, tidak ada yang lebih indah dari sekedar cinta yang didalamnya diselipkan pengertian dan perhatian, menjaga dan percaya, peduli dan mengasihi. Aku hanya selalu berangan, bagaimana bila nanti akhirnya aku dan kamu bisa disebut kita, dengan semua perjalanan yang dilalui berdua saja. Dengan hari-hari yg penuh dengan kebahagian dan tertawa. Aku mendambakan kamu hadir disampingku sebagai pasanganku. Berteman selayaknya teman, menemani selayaknya sahabat, menyanyangi layaknya keluarga, dan dikasihi layaknya pasangan. Suatu hari, dalam keterjagaan penuh lelah. Kita duduk di suatu tempat yg berdesakan. Lengan kita bersentuhan, dengan dibatasi pakaian. Aku memiringkan badan kesebelah kanan, menandakan sedang kelelahan. Dan kamu disampingku, menatap kearah depan. Meyakini sekali sedang menjaga wanitanya. Meski hanya beberapa waktu, aku bersyukur Allah menyelipkan kebahagiaanku bersamamu. Kamu menjadi tempat teraman dan ternyaman. Kamu tempat teduh disaat aku mengeluh. Ka...

Bukan karenamu, tapi dia

  Kamu akan lebih tau maksudnya, disakiti tanpa kau minta. Dikecewakan tanpa kau harapkan. Dunia seolah menyakitimu. Menempatkanmu pada posisi yang salah. Dimana harapan mulai membuatmu terjatuh dalam sekali. Kamu berusaha melawan dirimu sendiri. Berusaha untuk tidak kecewa, berusaha untuk terlihat biasa saja. Padahal kamu ingin sekali melampiaskan semua rasa. Ingin sekali semua orang paham akan rasa sakitmu. Tak ada yang lebih menyakitkan. Dari pertemanan yang tak mengerti akan keadaanmu. Yang tak paham akan rasa sakitmu, yang tak berusaha menjaga prasaanmu. Kamu berusaha terlihat baik-baik saja bukan berarti kau benar-benar dalam keadaan baik bukan? Kau memendam dan tak ingin mengatakannya pada siapapun bukan berarti kau benar benar tidak kecewa bukan? Kau berharap teman mu mengerti akan kamu. Mengerti apa yang menjadi kekecewaanmu tanpa kau ungkapkan. Tapi nyatanya tidak semua orang bisa paham tanpa kau jelaskan. Kau diam, tahan, tarik nafas kemudian menahan sesak yang begitu ...

Kuberi nama "Tulus"

Dari mu aku banyak belajar, Mencintai dengan tulus itu ternyata sangatlah indah. Darimu aku belajar menjadi orang yang baik itu sangatlah bermanfaat. Belajar jadi pribadi yang tulus tanpa berani modus. Belajar menjadi orang yang pemberani meski aku tau, aku tak pernah punya nyali. Belajar menjadi orang yg ikhlas meski dikhianati. Dengan segala kekuranganmu aku belajar menjadi sempurna, agar kamu bisa menganggapku tempat yg layak, tempatmu berbagi, tempat teduh dikala pana datang, dan hujan turun. Dengan segala kekuranganku pun kau lengkapi sampai aku tak bisa mengeluh lagi. Meski status kita hanyalah sebuah teman. Namun aku bahagia, sebab paling tidak aku selalu berharap pada penguasa agar ia tak membuat kita menjadi bermusuhan. Aku selalu merasa bahagia ketika aku masih diberi kesempatan untuk dapat bertemu denganmu, meski kita tak selalu menjalin komunikasi, tapi paling tidak, tak ada yg bisa melarang ku untuk menghubungimu kapanpun aku mau. Aku bersyukur sekali Tuhan mengh...

Resah Yang Teraksara

Kau tau bentuk resah itu apa. Saat dua pasang makhluk sedang berbincang disampingmu tengah asik berbahagia bercerita dengan serunya. Kamu bingung harus bersikap apa. Mata mu tak pernah ingin melihat apapun. Rasanya kupingmu ingin sekali lekas kau tutup. Rasanya kau ingin lekas pergi. Tapi kau tak bisa, kau sadar akan kuasamu tak ada disini. Kau mencoba menahan segalanya. Menahan kebingungan yang seharusnya tidak kau tampakkan. Kau yakin kau kuat. Karena kau percaya tuhanmu tengah berusaha melindungimu dari patah hati. Tuhan mu tengah menahan hatimu agar tak retak kembali. Kau menjadi kaku. Lemah. Lesu. Rasanya lebih baik kau tak pernah ada diposisi ini. Rasanya akan lebih baik bila kau tak pernah berada pada satu kondisi yang ujung-ujungnya akan menyulitkan hati. Dalam hati mu kau berteriak. "Seandainya saja tuhan... seandainya saja.." Terus terusan hatimu meneriakkan dua kata yang menunjukkan ketidakpuasan. Kau berusaha menahan sesak. Kau berusaha untuk tidak bergerak....

Untuk Rinduku

Hay rindu.. Kau masih setia menemani malamku. Kau masih jadi penyebab dari air mataku. Kau masih menempatkan posisi paling dalam dihatiku. Kau tau? Meski nyatanya kita tak selalu setiap hari komunikasi. Meski nyatanya komunikasi kita singkat sekali. Meski pertemuan tak kunjung juga kita temuai. Tapi percayalah, jarak tak membuatku lupa. Setiap malam, rindu yg layak itu hanya untukmu. Aku memang egois, setelah menunggu lama agar dihubungimu. Tapi masih saja, membalasnya dengan sangat singkat. Padahal aku keberatan melakukannya. Tapi tetap saja aku tertarik untuk tetap pura pura marah. Dan selalu bersikap acuh untukmu. Kau tau? Jujur aku keberatan sekali dalam melawan rindu. Aku menolak komunikasi yang singkat - singkat ini. Aku berat mengatakan tak bisa ikut padahal ingin. Aku bosan menjadi pembohong untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa mengalahkan egoku. Meski kau yg paling utama, tapi tetap saja aku tidak bisa menggagalkan rencanaku untuk tetap jauh darimu. Kare...

Masih Dengan Rindu

Meski rindu tak pernah bisa ku bagi. Meski hati hanya bisa merasakan rasa sakit. Tak apa asal aku tetap bisa mencinta untuk mu saja. Bagiku ketulusan itu paling penting diantara apapun. Contohnya aku yg terus saja mencintaimu meskipun tak tau kau memcintai siapa. Terus saja merindukanmu meski aku tak tau rindumu kau bagi kesiapa. Terus memikirkanmu meskipun tak tau apakah aku pernah ada dipikiranmu. Entah apa yg membuatku bisa jatuh hati pada orang seperti kau ini, kupiki sebelumnya kau hanya pelampiasan cinta yg pantas. Namun nyatanya salah, kau orang yg kucintai dengan tuntas. Meskipun kamu dihidupku hanya sekedar berlalu lintas. Hey, sadarkah kamu rinduku untukmu semakin menjadi di setiap hari. Sadarkah kamu sampai aku kaku ketika bertemu. Tau kah kamu menatap matamu saja aku tak mampu. Detak jantungku kian berderap kencang ketika kau ajak aku berbicara. Bisakah kamu memndeskripsikan prasaan ku yg meledak bahagia, seperti bunga bunga yg jatu ketika ada pemenang lomba dalam tallen...

Hallo Pria Pengecutku

Hallo pria pengecutku👋 semakin hari rinduku semakin menjadi jadi. Sedangkan kita tak pernah melewati batas apapun ketika bertemu. Kau berhasil membuatku menjadi sangat sangat jatuh, namun tak pernah kubiarkan tangan pria lain menolongku untuk bangkit. Sombong nya aku, hanya kamu saja yg boleh membantuku. Sedangkan kau bukan siapa-siapanya aku, begitupun sebaliknya aku bukan siapa-siapanya kamu. Aku heran, kenapa semakin hari tingkah kita bersikap semakin asing saja? Bukankah ini akan merusak hubungan kita? Apa bisa hubungan bisa bertahan hanya sekedar dengan rindu sebagai penopang yg paling kuat walau itu terpendam? Apa bisa hubungan tetap utuh walau pun raga selalu jauh, bahkan bukan hanya itu, komunikasi kita pun tak berjalan dengan baik. Aku tak bisa menjalani hari dengan rindu yg kulewati sendiri, bahkan hanya sekedar mengirim huruf "P" dikontak Whatsapp mu saja aku tak berani, aku selalu gengsi. Ini perpaduan yg tak baik, rindu dan gengsi tidak bisa dicam...