Aku paham, . Ini bukan waktuku untuk mengingatkan kamu - meskipun aku ingin - tentang bagaimana rasa asa dan doa yang pernah menghijau di sekujur kita. Tentang bagaimana kita meyakini, Tuhan akan segera merestui kita untuk berdua di semua masa. Ini waktuku untuk melepas rahasia, bahwa aku jatuh cinta.
Ya. Aku jatuh cinta. Sudah, masih, bahkan seperti tak tahu akhir. Aku ingin tak suka, sebab ia bekerja dengan cara menewaskan dan menghidupkan aku sekaligus. Ini bukan hanya soal sekian aku yang telah terbunuh di kepalaku. Tapi juga soal ia yang telah memberiku indra lebih banyak. Olehnya, aku seakan ditanam kepekaan, lebih tajam dari yang selama ini aku genggam.
Aku bersumpah, aku tak bisa lelah dalam mengagumi wujud dan rupamu. Dan menikmati gerak dan sentuhmu adalah indah yang tak terselesaikan bagiku. Namun, saat itu, segalanya tiba di keadaan yang tak bisa aku mengerti. Bahagiaku karenamu yang sedang meninggi, tiba-tiba ditampar untuk cepat-cepat berhenti.
Jantungmu sangat mendetakkan sisa waktu untukku dapat tinggal di situ. Tubuhmu beraroma bangkai dari hati perempuan yang kamu sembunyikan dari mataku. Suaramu terdengar banyak; tak satu pun dari mereka yang bicara, bahwa kamu tidak akan meninggalkan kita. Seketika napasku terasa tak lagi memberi hidup. Sebab, aku sadar, ini tanganku tak cukup besar untuk menerima atau mencegah itu semua.
Maka, ketika akhirnya kamu membenarkan segala tanda, untukku cuma luka teramat nyata; merata di seluruh cinta yang mendalam di dada. Hingga, kepergianmu tak mampu lagi membuatku semakin terluka. Tapi, kesendirian, justru membuatku semakin mencinta.
Kini, kita adalah kamu yang tak kembali dan jatuhku yang tak bisa usai. Setiap aku ingin berlalu sejauh kamu, aku yang lain enggan mengkhianati hati sendiri.
Komentar
Posting Komentar