Langsung ke konten utama

Sayangnya Begitu


        Seperti yang sudah kamu tahu, aku tahu, kamu bukan pelupa. Lebih dari itu, aku kenal kamu sebagai lelaki yang berani berpikir dan merasa. Maka, sungguh, aku sadar diri. Tulisan ini tak akan kamu beli. Tulisan ini terlalu miskin; tak punya cukup kata dan makna yang bisa membuatmu kaya dan gembira. Karenanya, aku tak perlu berharap ini dapat kamu baca, bukan? Karenanya, kini aku hanya berharap, aku dapat jujur.
Aku paham, . Ini bukan waktuku untuk mengingatkan kamu - meskipun aku ingin - tentang bagaimana rasa asa dan doa yang pernah menghijau di sekujur kita. Tentang bagaimana kita meyakini, Tuhan akan segera merestui kita untuk berdua di semua masa. Ini waktuku untuk melepas rahasia, bahwa aku jatuh cinta.
        Ya. Aku jatuh cinta. Sudah, masih, bahkan seperti tak tahu akhir. Aku ingin tak suka, sebab ia bekerja dengan cara menewaskan dan menghidupkan aku sekaligus. Ini bukan hanya soal sekian aku yang telah terbunuh di kepalaku. Tapi juga soal ia yang telah memberiku indra lebih banyak. Olehnya, aku seakan ditanam kepekaan, lebih tajam dari yang selama ini aku genggam.
        Aku bersumpah, aku tak bisa lelah dalam mengagumi wujud dan rupamu. Dan menikmati gerak dan sentuhmu adalah indah yang tak terselesaikan bagiku. Namun, saat itu, segalanya tiba di keadaan yang tak bisa aku mengerti. Bahagiaku karenamu yang sedang meninggi, tiba-tiba ditampar untuk cepat-cepat berhenti.
        Jantungmu sangat mendetakkan sisa waktu untukku dapat tinggal di situ. Tubuhmu beraroma bangkai dari hati perempuan yang kamu sembunyikan dari mataku. Suaramu terdengar banyak; tak satu pun dari mereka yang bicara, bahwa kamu tidak akan meninggalkan kita. Seketika napasku terasa tak lagi memberi hidup. Sebab, aku sadar, ini tanganku tak cukup besar untuk menerima atau mencegah itu semua.
Maka, ketika akhirnya kamu membenarkan segala tanda, untukku cuma luka teramat nyata; merata di seluruh cinta yang mendalam di dada. Hingga, kepergianmu tak mampu lagi membuatku semakin terluka. Tapi, kesendirian, justru membuatku semakin mencinta.
Kini, kita adalah kamu yang tak kembali dan jatuhku yang tak bisa usai. Setiap aku ingin berlalu sejauh kamu, aku yang lain enggan mengkhianati hati sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...