Langsung ke konten utama

Setiap hati


   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah.
Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu menyeleksi pemilik kuncinya. Cinta masih mengental, tapi luka pun terasa mengekal. Aku hanya tak ingin salah langkah. Karena pernah, cinta membuatku begitu patah. Untuk sembuh, perlu waktu yang sangat lama. Aku butuh merangkak seorang diri, meminum pil kenyataan yang begitu pahit dan menyadarkan bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menerima.
   Memang, tadinya aku tak ingin terburu-buru mendefinisikanmu sebagai calon penghuni hati. Karena ada ruangan yang pernah diobrak-abrik oleh beberapa objek masa laluku, kini perlu dirapihkan terlebih dahulu. Terlalu jahat jika ruangan tempatmu menghuni nanti masih dipenuhi sisa-sisa luka. Penyambutan yang baik adalah sebenar-benarnya mencintai dengan tanpa membawa masa lalu ikut serta. Memang, ingatan tentang beberapa peristiwa patahnya hati takkan pernah bisa terusir pergi. Tapi setidaknya aku perlu memastikan bahwa sekalipun bahagia mulai mengudara, ini bukanlah penyangkalan atau pesta sandiwara. Ini bukan perasaan sisa-sisa masa lalu. Harus ada hati yang benar-benar bahagia, atas maaf yang sepenuhnya terlaksana.
   Jika belum diberikan berarti kita masih dipersiapkan dan jika kita dipersiapkan, pasti akan dipercayakan. Jadi bukan berarti saat menunggu yang terbaik, lalu kita berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Kita tidak akan pernah sampai ke rumah yang tepat, kalau kita hanya diam di tempat. Percayalah kepada Sang Pemegang Hari Esok, karena Dia takkan membuat kita jatuh terperosok. Jangan takut, jangan khawatir, jangan cemas akan segala hal yang masih tak terprediksi, karena Tuhan sudah pegang kendali. Porsi untukmu, tidak akan pernah berlebihan dan berkekurangan. Rencana Tuhan tidak akan pernah terlambat atau terlalu awal. Sebarkanlah percaya dalam ruang hatimu, berhentilah menerka-nerka segalanya dengan pikiranmu sendiri.
   Cinta masih sama. Beberapa harus menunggu sedikit lebih lama. Beberapa masih harus setia mencintai tanpa menimbang sebanyak apa yang akan diterima. Karena cinta adalah memberi, bukan sepenuhnya memiliki. Cinta masih sama. Takkan terasa tiba jika kita masih menyangkalnya. Terimalah, percayalah, bahwa segalanya akan baik-baik saja. Jika ujungnya bukan dengan dia, berarti masih ada sosok yang terbaik yang sedang dipersiapkan. Cinta masih sama. Kitalah yang harus pintar-pintar berhati-hati menjaga hati dan menikmati bahagia yang mengedar bebas di setiap arena. Cinta masih sama. Masih berteman baik dengan percaya. Karena mungkin, disaat kamu tidak lagi mencari, tidak lagi mengharapkan terlalu banyak, disaat kamu seutuhnya utuh, Tuhan akan mengirimkan penghuni istimewa itu. Bersiaplah. Kamu tidak akan bisa menelusuri jalan pikiran Tuhan kan?
Selamat menunggu saat itu tiba dan berbahagialah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...