Langsung ke konten utama

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman.
Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua.

Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu laki-laki.

Hampir 8 bulan kuhabiskan waktu pergi bersamanya,  semakin hari semakin merasa banyak sekali kecocokkan,  aku berharap dalam do'a "Ya, Allah..  Semoga dia kiriman dari mu,  untuk ku berkeluh kesah,  selagi orang tua ku tak disini" yang memang kebetulan pada saat itu ayah dan ibu ku tak bersamaku. Sampai pada akhirnya,  aku merasakan kami seperti saudara kandung,  saudara yg sedarah,  bahkan kami tak merasakan kami lahir dari ayah dan ibu yg berbeda.  Kami sering beradu pendapat,  sering berperang opini,  sering ribut kecil seperti mengomel akan tingkah kami masing-masing,  dan kami menerima kekurangan itu.  Tapi mungkin,  ternyata aku yg salah.  Aku terlalu menganggap semuanya baik seperti yg aku kira. Yang membuat aku lupa bahwa itu tidak pernah sebaik yg terlihat.

Dihari itu,  hari dimana pertama kali kuajak dia bertemu dengan sahabat2 ku yang lain.  Berkenalan dengan saudara2 ku yg lain.  Yg kuharap,  semua berjalan dengan semestinya.  Namun,  nyatanya salah.  Seorang pria yg kukagumi dari sejak lama,  bahkan dia pun mengetahui semua ceritanya. Mungkin tertarik dengannya.  Bagaiman tidak?  Wajah ayu dengan sikap nan sopan,  juga penampilan yg siapapun akan menganggapnya adalah pribadi yg positif.  Lama-kelamaan,  dan entah kenapa kami perlahan merenggang.  Yg seharusnya,  setelah kukenal kan dia dengan saudara ku yg lain membuat persahabatan kami meluas, tapi nyata nya tidak.

Aku ingat,  dimalam itu.  Ditempat kami sering bertemu dengan anak-anak santri,  entah kenapa ia seperti merahasiakan sesuatu. Yang biasanya ponselnya sering terkapar dimana pun.  Sekarang tak lepas dari genggamannya.  Yang biasanya bisa kupinjam kapanpun,  ini tidak lagi.  Oke,  disaat itu aku terima.  Mungkin dia lagi ada masalah yg cukup berat,  dan gak seharusnya aku tau.  Tapi jarak beberapa waktu setelah itu,  aku mulai curiga,  dia mendadak sering menanyakan ttg seseorang yg kukagumi,  dan bodohnya,  aku menceritakan semuanya.  Mulai dari kelebihan,  penyebab aku menganggumi,  hingga kebaikkan -kebaikkannya. Yang didalam nya,  aku menaruh harap,  semoga setelah kuceritakan ini,  dia bisa lebih pengertian terhadapku. Dan tak berniat buruk untukku.  Namun,  itu bukanlah yg terjadi.  Justru ia menaruh harap pada lelaki itu,  yang membuat kami seperti berlomba mendapati hati satu orang. Disaat aku mengetahuinya.  Aku mulai membencinya,  bukan hanya dia,  tapi juga lelaki yang kukagumi selama 4 tahun lamanya.

Sejak saat itu,  aku mulai beranggapan manusia didunia ini semuanya kejam kecuali keluargaku. Aku tak perlu menyesal sebab tak ada gunanya.  Aku hanya tidak pernah menyangka,  semua pandangan baikku harus berubah semengenaskan ini.  Aku tak perlu mengetahui apa saja yg kutemui diponsel itu,  sebab biarkan rasa kecewa itu aku bersama penciptaku saja yg tau.  Dan perlahan,  aku ingin menjauh dr laki-laki itu,  berulang kali ku pertanyakan.  Siapa yang salah disini?  Aku,  dia,  atau lelaki itu? Sebab,  tak mungkin bila tak ada yg salah diantara kita,  kita bisa menjalani kisah yang salah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...