Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu.
Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia.
Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu.
Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa untuk bertanggung jawab pada perasaan ini. Sampai aku lupa membangun asa dan memperkokoh pondasi. Ah bukan aku saja tapi kita. Dan aku pun khilaf bahwa kita harus menjadi lebih baik di hadapanNya bukan mengikuti nafsu hati.
Kini, aku tak mau lagi seperti itu. Maka jalan yang aku pilih tetap menyayangimu namun dengan rasa dan cara yang berbeda.
Kau tau?. Yang aku yakini saat ini, Tuhan pasti akan memberi. Apapun itu, memberi untuk kita. Entah itu keabadian bersama ataupun hati yang lapang untuk menemui tempat pulang yang lain.
Biarkan skenario Tuhan saja yang kita yakini. Maka… sekali saja, duduklah di sampingku ini Tuan….
Komentar
Posting Komentar