Langsung ke konten utama

Tak ada yang murni

Bisa kita tetap menjadi teman baik setelah dibully banyak oleh teman-teman kita? Sebelumnya aku membenci persahabatan antara laki laki dan perempuan. Sebab aku tau, tak mungkin tak terselip cinta didalamnya. Walaupun sekuat kita membentengi diri. Sehebat kita menyembunyi-ii. Tetap saja, cinta akan terlihat jelas diantara keduanya ketika dia duduk berdua. Walaupun tanpa berbincang-bincang. Soal prasaan atau sekedar mengeluarkan keluh kesah selama menjalani aktivitas sehari-hari.

Mungkin saja benar, dalam cinta tidak ada yang benar-benar nyata. Seperti prasaan yang dilabuhkan kehati, kadang hanya sekedar dirasa saja, bukan dinikmati. Kalau didunia hanya ada dua pilihan, dicintai atau mencintai. Tapi, aku ingin lebih dari sekedar memilih. Sebab aku ingin menjalani keduanya. Kalau diizinkan, mungkin bersamamu?

Aku tau prasaan ini seharusnya memang gak ada. Aku juga gak ingin mewarnai persahabatan kita dengan merah jambunya cinta. Tapi, asal kau tau. Seandainya kamu gak pernah perjuangin aku, mungkin saja aku biasa. Kau tau kan, wanita itu sensitif. Hatinya mudah sekali tersentuh bila ada pria yang berusaha mengerti dia. Yah mungkin memang benar kamu bukan yg pertama. Kamu adalah orang kesekian yg pernah ada. Tapi sebenarnya kamu adalah yg kedua dari orang yg pertama dulu yg pernah singgah. Hanya saja, dulu aku berhasil menepisnya. Sebenarnya aku tak ingin memungkiri keberadaanmu dulu. Karena hanya ada prasaan sahabatku yg lain yg harus sangat ku jaga. Dengan sengaja aku membiarkan kamu pergi dari hati. Aku bahagia? Sebenarnya tidak. Tapi paling tidak, aku lega ketika tidak melukai hati sahabat ku yang lain. Seandainya kau dulu memiliki prasaan yang sama. Mohon maaf, mungkin aku berhasil untuk tidak melukai prasaan sahabatku, tapi aku berhasil melukai prasaanmu (sahabatku juga)

Aku tak tau apa yg menyebabkan kita jadi sedekat ini, awal kedekatan kita dimulai karena apa. Tak seperti kebanyakkan orang, kita tidak pernah memulainya dengan terlalu manis. Tidak pernah berucap manja. Rayuan atau gombalan sepenggal. Kita terlalu asik menerima kenyataan. Bahwa kesendirian tak pernah seseram yg orang pacaran lihat. Kita juga tidak terlalu anti terhadap pacaran, mungkin kita hanya terlalu cuek terhadap prasaan - prasaan yang ada disekitar kita. Tidak terlalu peduli sama mereka yang menaruh hati. Sebab, itu hanya akan menyulitkan kita. Iya, bukan?

Inilah kepribadian diantara kita yang sulit dipungkiri. Kamu tidak terlalu peka, dan aku yang tidak perduli. Sehingga disaat rasa diantara kita ada, kau sulit merasakan perubahannya. Dan aku tidak memperdulikannya. Walaupun sebenarnya, sulit ku pungkiri "aku nyaman" sungguh! Kau percaya itu? Jelas, wanita mana yang tak tergoyah dengan kepribadianmu. Mungkin itulah sebabnya kau banyak diinginkan wanita. Tapi tetap saja aku tak peduli ttg siapa saja yang menginginkanmu, atau siapa saja yang menghubungimu. yang penting bagiku, seberapa sering kau meluangkan waktumu untukku. Dan perjuangi hal itu.

Paling tidak, kemenangan bagiku ketika kamu ikut khawatir akan kecemasan ku. Atau kamu yang berhasil meninggalkan waktu nyamanmu untuk aku. Kamu yg peduli dengan moodku, peduli dengan kekecewaanku. Dan tak lupa, berani terbuka padaku tanpa batasan apaapa. Terimakasih, mungkin aku terlalu sering merepotkanmu, walaupun kau tak pernah mengutarakannya. Walau aku merasa bersalah, tapi dalam hatiku ada saja yg meledak-ledak bahagia tanpa ku minta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...