Langsung ke konten utama

Bukan karenamu, tapi dia

 

Kamu akan lebih tau maksudnya, disakiti tanpa kau minta. Dikecewakan tanpa kau harapkan. Dunia seolah menyakitimu. Menempatkanmu pada posisi yang salah. Dimana harapan mulai membuatmu terjatuh dalam sekali. Kamu berusaha melawan dirimu sendiri. Berusaha untuk tidak kecewa, berusaha untuk terlihat biasa saja. Padahal kamu ingin sekali melampiaskan semua rasa. Ingin sekali semua orang paham akan rasa sakitmu.

Tak ada yang lebih menyakitkan. Dari pertemanan yang tak mengerti akan keadaanmu. Yang tak paham akan rasa sakitmu, yang tak berusaha menjaga prasaanmu. Kamu berusaha terlihat baik-baik saja bukan berarti kau benar-benar dalam keadaan baik bukan? Kau memendam dan tak ingin mengatakannya pada siapapun bukan berarti kau benar benar tidak kecewa bukan? Kau berharap teman mu mengerti akan kamu. Mengerti apa yang menjadi kekecewaanmu tanpa kau ungkapkan. Tapi nyatanya tidak semua orang bisa paham tanpa kau jelaskan. Kau diam, tahan, tarik nafas kemudian menahan sesak yang begitu dalam sekali. Ada sesak yg susah kau tenangkan didalam dada. Tapi, kau bingung harus meluapkannya dengan cara apa?

Semua orang tak peduli padamu, sakit mu dalam sekali, hingga kau bingung dengan cara apa kau mampu menyembuhkannya. Luka mu tampaknya semakin melebar, menyebar sampai keparu-paru, hingga nafasmu tak dapat bergerak dengan nyaman. Seperti ada satu hal yg menusuk keparu parumu. Seperti dunia menikammu dengan jarum yang sangat besar. "Kau tak punya hak. Kau tak ada hak untuk marah. Ingattt.. kau bukan siapa siapa! Kau bukan siapa siapa! Sadari dirimu. Sadarlahhhh.... sadarrrr... " yakin teriakan itu memaksamu untuk mengalahkan amarahmu. Meskinyatanya kau memungkiri berulang kali.

Tumpahkan air mata yang harusnya turun, luapkan lah, jangan memendam kebisuan, orang orang tak paham akan diammu. Bahkan seorang yang sudah kau anggap teman sekalipun. Berhentilah menganggap dirimu penting, kau bukan siapa-siapa. Sadari dirimu untuk berhenti membangun mimpi-mimpi yang tak mungkin menjadi nyata. Kau harus tau dirimu siapa?

Tuhannnn....
Pahamlah aku tengah memarahi diriku sendiri. Pahamlah aku tengan membenci diriku sendiri.
Pahamlah aku tengah benci dengan keadaan seperti ini.
Tuhannnn.....
Rangkul luka yg kurasa ini, hapus dan usaplah air mataku inii.
Kuatkanlah aku dari retak dan patahnya hati ini.
Kuatkanlah aku dalam menghadapi apapun yang membuatku rapuhhh..
Peluk aku bersama luka yang membuatku menangis ini.

Tuhannn...
Aku sadar siapa aku.
Aku sadar aku hanya teman.
Aku sadar aku bukan prioritas.
Aku sadar aku hanya membangun mimpi.
Aku sadar mimpi itu akan tetap menjai mimpi.

Tuhan...
Ingin sekali rasanya aku tidur dalam jangka waktu yang lama hingga aku tak terbangun lagi.

Ingin sekali rasanya aku menutup kepala ku dengan bantal lalu teriak sekencang-kencangnya agar tak ada yang tau air mataku jatuh dengan deras sekali..

Ingin sekali rasanya aku masuk kedalam kamar mandi, lalu menyiram tubuh ku dengan air dingin. Agar emosiku yang berapi-api ini lekas meredam kembali.
 
Ingin sekali rasanya aku pergi kelaut lepas untuk menghanyutkan semua perasaan yang membuatku semakin tenggelam.

Ingin sekali rasanya aku memanggil ibuku lalu memeluknya, merangkulnya tanpa bicara, cukuplah isak tangis sebagai bukti bahwa aku tengah menahan perihnya sakitt. Tanpa mengeluh dan bicara aku paham ibuku tau rasa sakitku. Paling tidak ibuku mengerti aku, dan do'akan kebahagiaanku. Aku menyadari, tanpa ibu sulit sekali aku membangun diri yg jatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...