Kamu akan lebih tau maksudnya, disakiti tanpa kau minta. Dikecewakan tanpa kau harapkan. Dunia seolah menyakitimu. Menempatkanmu pada posisi yang salah. Dimana harapan mulai membuatmu terjatuh dalam sekali. Kamu berusaha melawan dirimu sendiri. Berusaha untuk tidak kecewa, berusaha untuk terlihat biasa saja. Padahal kamu ingin sekali melampiaskan semua rasa. Ingin sekali semua orang paham akan rasa sakitmu.
Tak ada yang lebih menyakitkan. Dari pertemanan yang tak mengerti akan keadaanmu. Yang tak paham akan rasa sakitmu, yang tak berusaha menjaga prasaanmu. Kamu berusaha terlihat baik-baik saja bukan berarti kau benar-benar dalam keadaan baik bukan? Kau memendam dan tak ingin mengatakannya pada siapapun bukan berarti kau benar benar tidak kecewa bukan? Kau berharap teman mu mengerti akan kamu. Mengerti apa yang menjadi kekecewaanmu tanpa kau ungkapkan. Tapi nyatanya tidak semua orang bisa paham tanpa kau jelaskan. Kau diam, tahan, tarik nafas kemudian menahan sesak yang begitu dalam sekali. Ada sesak yg susah kau tenangkan didalam dada. Tapi, kau bingung harus meluapkannya dengan cara apa?
Semua orang tak peduli padamu, sakit mu dalam sekali, hingga kau bingung dengan cara apa kau mampu menyembuhkannya. Luka mu tampaknya semakin melebar, menyebar sampai keparu-paru, hingga nafasmu tak dapat bergerak dengan nyaman. Seperti ada satu hal yg menusuk keparu parumu. Seperti dunia menikammu dengan jarum yang sangat besar. "Kau tak punya hak. Kau tak ada hak untuk marah. Ingattt.. kau bukan siapa siapa! Kau bukan siapa siapa! Sadari dirimu. Sadarlahhhh.... sadarrrr... " yakin teriakan itu memaksamu untuk mengalahkan amarahmu. Meskinyatanya kau memungkiri berulang kali.
Tumpahkan air mata yang harusnya turun, luapkan lah, jangan memendam kebisuan, orang orang tak paham akan diammu. Bahkan seorang yang sudah kau anggap teman sekalipun. Berhentilah menganggap dirimu penting, kau bukan siapa-siapa. Sadari dirimu untuk berhenti membangun mimpi-mimpi yang tak mungkin menjadi nyata. Kau harus tau dirimu siapa?
Tuhannnn....
Pahamlah aku tengah memarahi diriku sendiri. Pahamlah aku tengan membenci diriku sendiri.
Pahamlah aku tengah benci dengan keadaan seperti ini.
Tuhannnn.....
Rangkul luka yg kurasa ini, hapus dan usaplah air mataku inii.
Kuatkanlah aku dari retak dan patahnya hati ini.
Kuatkanlah aku dalam menghadapi apapun yang membuatku rapuhhh..
Peluk aku bersama luka yang membuatku menangis ini.
Tuhannn...
Aku sadar siapa aku.
Aku sadar aku hanya teman.
Aku sadar aku bukan prioritas.
Aku sadar aku hanya membangun mimpi.
Aku sadar mimpi itu akan tetap menjai mimpi.
Tuhan...
Ingin sekali rasanya aku tidur dalam jangka waktu yang lama hingga aku tak terbangun lagi.
Ingin sekali rasanya aku menutup kepala ku dengan bantal lalu teriak sekencang-kencangnya agar tak ada yang tau air mataku jatuh dengan deras sekali..
Ingin sekali rasanya aku masuk kedalam kamar mandi, lalu menyiram tubuh ku dengan air dingin. Agar emosiku yang berapi-api ini lekas meredam kembali.
Ingin sekali rasanya aku pergi kelaut lepas untuk menghanyutkan semua perasaan yang membuatku semakin tenggelam.
Ingin sekali rasanya aku memanggil ibuku lalu memeluknya, merangkulnya tanpa bicara, cukuplah isak tangis sebagai bukti bahwa aku tengah menahan perihnya sakitt. Tanpa mengeluh dan bicara aku paham ibuku tau rasa sakitku. Paling tidak ibuku mengerti aku, dan do'akan kebahagiaanku. Aku menyadari, tanpa ibu sulit sekali aku membangun diri yg jatuh.
Komentar
Posting Komentar