Langsung ke konten utama

Hallo Pria Pengecutku


Hallo pria pengecutku👋 semakin hari rinduku semakin menjadi jadi. Sedangkan kita tak pernah melewati batas apapun ketika bertemu. Kau berhasil membuatku menjadi sangat sangat jatuh, namun tak pernah kubiarkan tangan pria lain menolongku untuk bangkit. Sombong nya aku, hanya kamu saja yg boleh membantuku. Sedangkan kau bukan siapa-siapanya aku, begitupun sebaliknya aku bukan siapa-siapanya kamu.

Aku heran, kenapa semakin hari tingkah kita bersikap semakin asing saja? Bukankah ini akan merusak hubungan kita? Apa bisa hubungan bisa bertahan hanya sekedar dengan rindu sebagai penopang yg paling kuat walau itu terpendam? Apa bisa hubungan tetap utuh walau pun raga selalu jauh, bahkan bukan hanya itu, komunikasi kita pun tak berjalan dengan baik.

Aku tak bisa menjalani hari dengan rindu yg kulewati sendiri, bahkan hanya sekedar mengirim huruf "P" dikontak Whatsapp mu saja aku tak berani, aku selalu gengsi. Ini perpaduan yg tak baik, rindu dan gengsi tidak bisa dicampur adukkan. Aku membencinya, seharusnya kamu yg memulai. Pengecut sekali, apa salahnya kau yg memulai percakapan diantara kita? Padahal seandainya kau yg memulainya lebih dulu, aku ingin mempertahankan percakapan itu cukup lama. Aku rela kok merasakan menahan ngantuk hanya untuk membalas pesanmu saja. Indah bukan? Dulu kita sering melakukan ini.

Kau rindu tidak? Masa dimana kita masih melnjutkan obrolan panjang yg tak begitu penting sampai berganti hari? Kau rindu tidak masa dimana aku menemani dalam mengerjakan tugas kuliahmu walau dengan tempat yg berbeda. Paling tidak chattku bisa membantu mu menahan ngantuk sampai tugas kuliahmu selesai, iya kan? Aku membayangkan keadaan itu, aku yang sibuk dengan celotehan curhatku, dan kamu yang sibuk pula mengetik di laptopmu, sambil menjaga keseimbangan mendengar celoteh dariku, dan otak mu yg terus berfikir, jalan keluar untuk curhatku dan jawaban untuk tugas-tugasmu.

Tapi sayang, itu cuma pantas dikenang. Kau tak lagi seperti itu. Kau pengecut! Kau hanya bisa membuat ku rindu tanpa berani mempertanggung jawabkannya. Tapi aku tidak kecewa, aku tetap menyayangimu. Kau hanya menyiksaku dengan rindu, bukan dengan pilihan keduamu. Kuharapsih itu juga tidak pernah ada.
Bila bisu bisa menenangkan hati yang bising. Aku ikhlas rindu menjadi kuat untuk dua makhluk yg tiba tiba asing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...