Langsung ke konten utama

Ingin Berdua

 

Aku tau, tidak ada yang lebih indah dari sekedar cinta yang didalamnya diselipkan pengertian dan perhatian, menjaga dan percaya, peduli dan mengasihi. Aku hanya selalu berangan, bagaimana bila nanti akhirnya aku dan kamu bisa disebut kita, dengan semua perjalanan yang dilalui berdua saja. Dengan hari-hari yg penuh dengan kebahagian dan tertawa. Aku mendambakan kamu hadir disampingku sebagai pasanganku. Berteman selayaknya teman, menemani selayaknya sahabat, menyanyangi layaknya keluarga, dan dikasihi layaknya pasangan.

Suatu hari, dalam keterjagaan penuh lelah.
Kita duduk di suatu tempat yg berdesakan.
Lengan kita bersentuhan, dengan dibatasi pakaian.
Aku memiringkan badan kesebelah kanan, menandakan sedang kelelahan.
Dan kamu disampingku, menatap kearah depan. Meyakini sekali sedang menjaga wanitanya.
Meski hanya beberapa waktu, aku bersyukur Allah menyelipkan kebahagiaanku bersamamu.
Kamu menjadi tempat teraman dan ternyaman.
Kamu tempat teduh disaat aku mengeluh.
Kamu masih menjadi terhebat di dalam hatiku.

Dengan segala resahku, keberadaanmu disampingku mewakili segalanya. Mewakili perhatian yang tak kau sebutkan. Mewakili prasaan yg tak kau ungkapkan. Mewakili keterjagaan atas pertanggung jawaban. Semesta pun tau, hati ini kulabuhkan hanya untukmu. Satu satu nya pria, yang namanya masih kusimpan rapat didalam hati. Mungkin aku lihai menyembunyikannya. Sebab aku tak ingin kau sampai mengetahui, aku ingin ini menjadi rahasiaku bersama semesta, mungkin alam pun tau, seberapa seringnya ku sebut namamu.

Kumohon dengan segala pengharapan, ku ingin kami menjadi teman hidupku nanti. Sebab denganmu, kulihat kenyamanan yg paling aman itu ada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...