Langsung ke konten utama

Resah Yang Teraksara

Kau tau bentuk resah itu apa. Saat dua pasang makhluk sedang berbincang disampingmu tengah asik berbahagia bercerita dengan serunya. Kamu bingung harus bersikap apa. Mata mu tak pernah ingin melihat apapun. Rasanya kupingmu ingin sekali lekas kau tutup. Rasanya kau ingin lekas pergi. Tapi kau tak bisa, kau sadar akan kuasamu tak ada disini.

Kau mencoba menahan segalanya. Menahan kebingungan yang seharusnya tidak kau tampakkan. Kau yakin kau kuat. Karena kau percaya tuhanmu tengah berusaha melindungimu dari patah hati. Tuhan mu tengah menahan hatimu agar tak retak kembali. Kau menjadi kaku. Lemah. Lesu. Rasanya lebih baik kau tak pernah ada diposisi ini. Rasanya akan lebih baik bila kau tak pernah berada pada satu kondisi yang ujung-ujungnya akan menyulitkan hati.

Dalam hati mu kau berteriak.
"Seandainya saja tuhan... seandainya saja.."
Terus terusan hatimu meneriakkan dua kata yang menunjukkan ketidakpuasan. Kau berusaha menahan sesak. Kau berusaha untuk tidak bergerak. Agar tak ada yang tau, kau kelelahan sekali menahan itu. Terus saja, kau menahan gelisah akan sebuah tingkah. Sikap apa yang harus kau ambil disaat patah hati begini. Kau diam sejenak. Kau ambil ponselmu untuk melampiaskan semua sesakmu. Nyatanya belum juga berhasil. Karena saat itu, saat yang bersamaan sinyal tak berada dipihakmu. Selanjutnya kau memilih, mematikan ponsel lalu menyimpannya disaku rok yang kau pakai. Kau fikir kau akan berhasil. Namun sayang, itu tak menuaikan hasil jua. Kau beralih membuka ponsel mu kembali, meraih apa yg bisa kau raih.

Selanjutnya, seperti biasanya dikala hatimu patah. Kau mulai membuka satu aplikasi yg tertera diponselmu. Aplikasi ini bermanfaat sekali. Dia selalu hadir sebagai penuang kegelisahanmu. Akhirnya kau buka dan kau pun mulai mengetik. Gerak matamu belum melegakan juga. Kembali kau lirik dia terus menerus, memperhatikan, gerak apa yang dia ambil. Dan tindakan apa yang akan kau pilih. Kau terus bermain dengan aplikasi yang sangat bermanfaaat tadi. Kau mulai membayangkan suatu kejadian, di saat patah hati ini benar-benar dalam. Rasa yang menggelora semacam Patah, retak, dan yeahhg mulai hempaskanlah semuanya. Enyahlah dari pandanganku yang seperti ini. Tuhannnn... tak kuasa aku melihat ini. Kembalikan takdir baikku seperti semula. Kuatkan hatiku. Bimbing aku menuju jalan kebaikan. Kuatkan hati ku dari kerapuhan. Hindari aku atas keretakan. Tuhan... kukembalikan semuanya kepadamu. Lindungi aku dari patahnya hati. Lindungilah aku selalu. Teruslah bersamaku dalam menggapai kebahagiaan. Aku mohonnn... sangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...