Kau tau bentuk resah itu apa. Saat dua pasang makhluk sedang berbincang disampingmu tengah asik berbahagia bercerita dengan serunya. Kamu bingung harus bersikap apa. Mata mu tak pernah ingin melihat apapun. Rasanya kupingmu ingin sekali lekas kau tutup. Rasanya kau ingin lekas pergi. Tapi kau tak bisa, kau sadar akan kuasamu tak ada disini.
Kau mencoba menahan segalanya. Menahan kebingungan yang seharusnya tidak kau tampakkan. Kau yakin kau kuat. Karena kau percaya tuhanmu tengah berusaha melindungimu dari patah hati. Tuhan mu tengah menahan hatimu agar tak retak kembali. Kau menjadi kaku. Lemah. Lesu. Rasanya lebih baik kau tak pernah ada diposisi ini. Rasanya akan lebih baik bila kau tak pernah berada pada satu kondisi yang ujung-ujungnya akan menyulitkan hati.
Dalam hati mu kau berteriak.
"Seandainya saja tuhan... seandainya saja.."
Terus terusan hatimu meneriakkan dua kata yang menunjukkan ketidakpuasan. Kau berusaha menahan sesak. Kau berusaha untuk tidak bergerak. Agar tak ada yang tau, kau kelelahan sekali menahan itu. Terus saja, kau menahan gelisah akan sebuah tingkah. Sikap apa yang harus kau ambil disaat patah hati begini. Kau diam sejenak. Kau ambil ponselmu untuk melampiaskan semua sesakmu. Nyatanya belum juga berhasil. Karena saat itu, saat yang bersamaan sinyal tak berada dipihakmu. Selanjutnya kau memilih, mematikan ponsel lalu menyimpannya disaku rok yang kau pakai. Kau fikir kau akan berhasil. Namun sayang, itu tak menuaikan hasil jua. Kau beralih membuka ponsel mu kembali, meraih apa yg bisa kau raih.
Selanjutnya, seperti biasanya dikala hatimu patah. Kau mulai membuka satu aplikasi yg tertera diponselmu. Aplikasi ini bermanfaat sekali. Dia selalu hadir sebagai penuang kegelisahanmu. Akhirnya kau buka dan kau pun mulai mengetik. Gerak matamu belum melegakan juga. Kembali kau lirik dia terus menerus, memperhatikan, gerak apa yang dia ambil. Dan tindakan apa yang akan kau pilih. Kau terus bermain dengan aplikasi yang sangat bermanfaaat tadi. Kau mulai membayangkan suatu kejadian, di saat patah hati ini benar-benar dalam. Rasa yang menggelora semacam Patah, retak, dan yeahhg mulai hempaskanlah semuanya. Enyahlah dari pandanganku yang seperti ini. Tuhannnn... tak kuasa aku melihat ini. Kembalikan takdir baikku seperti semula. Kuatkan hatiku. Bimbing aku menuju jalan kebaikan. Kuatkan hati ku dari kerapuhan. Hindari aku atas keretakan. Tuhan... kukembalikan semuanya kepadamu. Lindungi aku dari patahnya hati. Lindungilah aku selalu. Teruslah bersamaku dalam menggapai kebahagiaan. Aku mohonnn... sangat.
Komentar
Posting Komentar