Langsung ke konten utama

Aku adalah rumah. Kau percaya?

Hari ke-4..
Hari ini aku tidak lagi harus memaksakan semua sesuai rencanaku, sebab dihari ini rencanaku sudah berhasil. Tiga hari terakhir, aku begitu jatuh dalam keterpurukan. Dalam keadaan yang sulit menerima kenyataan. Meski hatiku begitu menolak, mataku memejam, telinga ku tak ingin mendengar. Tapi ini lah sebuah kenyataan yang memang harus kuterima.
"Jika kau tidak bisa bersama dengan orang yang kau sayangi,maka jangan memaksa!"
Kalau agama islam adalah agama yang mencintai kedamaian, lalu bagaimana caranya kamu dapat berdamai dengan hatimu sendiri? Jangan sebut dirimu muslim bila kau tak mampu. Lalu bagaimana caranya kamu mendamaikan umat dinegeri ini, jika islam rahmatan lil'alamin itu tak tercermin padamu sendiri?
3 hari terakhir aku memaksa. Memaksa harus lupa. Memaksa harus ikhlas. Tapi, kemudian aku sadar, ketika kita ikhlas. Keterpaksaan itu seharusnya tidak pernah ada.

Ahh.. aku terlalu jauh. Tapi begini..
Aku sedang berada dalam keadaan yang paling hancur, paling retak, paling rapuh, lalu patah.
Aku kehilangan akal, bagaimana cara membangun diri.
Tapi, aku tidak sendirian.
Aku bersama orang - orang hebat disampingku, yang tidak akan pernah meninggalkanku.
Mereka adalah ciptaan Allah yang selalu Allah kirim ketika aku rapuh. Itulah mengapa, aku tidak henti-hentinya bersyukur atas luka yg menyiksaku. Sebab, pada saat itu Allah ingin membuka mataku bahwa banyak orang yang menyayangiku. Ini sungguh.
Aku percaya, bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Aku percaya Allah beserta orang-orang yang sabar. Kugenggam erat 2 ayat yang semakin membuatku termotivasi untuk bangkit dari rasa sakit. Yang membuatku bangun dari rasa bingung.

Hari ini, aku ingin menunjukkan pada dunia. Aku lah orang yang paling bahagia, aku lah orang yang paling Allah cinta. Akulah wanita paling kuat yg sulit dijatuhkan. Sedetik pun aku tak ingin mengingat-ingat semua hal yang akan membuat jiwaku melemah.
Dihari ini aku bersyukur atas nafas yang masih dapat berhembus. Atas mata yg ingin kututup lalu kubuka. Telinga yang ku inginkan tuli kembali ku jalankan ia berfungsi. Sungguh, aku lah makhluk yg paling bahagia di hari ini. Aku sedang tidak memaksa, sedikitpun tidak.

Suatu hari nanti, yang kusebut entah itu hari apa. Aku dapat mengikhlaskan dengan sngat lega. Lebih dari hari ini. Aku tidak akan kecewa ketika mendapatimu bersama wanita lain. Aku tidak akan cemburu melihatmu menjalin kontak bersama wanita lain. Aku akan lebih kuat dari yang diriku sendiri bayangkan. Nanti, esok datang. Kamu akan menyadari, wanita yg begitu mencintaimu, masih akan tetap sama dalam keadaan mencintaimu. Namun dia menyadari, ada sesuatu yg tak harus sesuai dengan harapan dan jalan yg sudah ia bentuk sendiri. Karena di setiap jalan, akan selalu ada hambatan menuju arah ke sebuah rumah. Soal kau bertemu dengan siapa dipersimpangan jalan, aku tidak khawatir, soal siapa yang mengajakmu berjalan pergi jauh dari arah pulangmu, aku tak peduli, karena sejatinya aku sedang berada didalam rumah, menunggumu sampai dirimu kembali.

Aku percaya, mau kemana saja ragamu pergi, mau ketemu siapa kau diluar sana. Jika aku rumah untukmu, kau akan tetap kembali. Sembari menunggumu, aku sedang menikamati segelas kopi dicuaca yg dingin ini, sembari menatap foto-foto lama kita. Betapa indahnya masa itu, tak lupa benda kesayangan yg selalu ada bersamaku yang kau beri. Ditemani foto kita berdua. Sesekali ku putar Video yang membuat aku mengenang semuanya. Aku juga tidak lupa memutarkan suaramu ketika bernyanyi disebuah ruangan.
Aku hanyut dalam nostalgia bersamamu. Meski ragamu tak disampingku, tapi hatimu tetap ku gengam erat dan tak akan aku lepaskan. Aku hanya mengikhlaskan semua kejadian-kejadian yg membuatmu terlena dengan wanita penggoda diluaran sana. Tapi, aku akan tetap menunggumu kembali. Ini janjiku. Dan kamu akan pulang, itu kupastikan.

Nanti disaat kamu pulang, kan kusambut hangat dirimu, aku tidak akan menanyakan seberapa lelahnya perjalananmu? dan apa yang membuatmu terlambat pulang? Aku akan segera membuatkanmu segelas kopi atau pun teh, lalu kusediakan tempat ternyaman yang tidak akan pernah kamu lupakan. Kamu akan bercerita tentangmu tanpa ku minta. Sesekali mata kita saling menatap dengan hangat. Dan kala itu kudapati, dibola matamu terdapat rindu yg kau simpan untukku, matamu menatapku dengan cinta begitupun juga aku.

Pesanku:
Lekaslah pulang, aku menunggumu.
Lekaslah kembali, aku menanti.
Lekaslah lelah, dan menujulah kerumah.
Aku disana, merindukan hati yang bahagia

"Aku adalah rumah, dan kau orang yang kesesatan menuju rumah"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Manusia sekejam itu

Ini tentang sebuah pengalaman. Aku pernah memiliki seorang sahabat,  yang darinya aku juga banyak belajar tentang bersyukur menjalani hidup,  sebab apapun yang kujalani berbanding terbalik dengan nya.  Apapun yang kurasakan,  berbeda dengan yg dirasakannya. Perjalanan hidup kami menyerupai,  namun tak sama persis.  Kami dekat, bahkan sangat dekat.  Kami kenal disebuah rumah Allah. Yang kuyakin, orang2 disana pasti orang yang baik2 semua. Disuatu hari..  kami banyak menghabiskan waktu bersama,  layak nya saudara yang tinggal satu atap satu teras, dan satu tempat tidur.  Mulai dari mentari yg baru naik, hingga matahari terlelap lagi.  Kita sering menghabiskan waktu disebuah tempat tongkrongan yang mungkin anak-anak seusia kami pun sering kesana.  Kami bercerita mengenai keresahan hidup kami,  tentang orang tua kami, keluarga kami,  cita-cita kami,  bahkan tentang kegelisahan hati setiap wanita seusia kami yaitu ...

Setiap hati

   Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu ...

Duduklah Disampingku

Aku ingin berbincang denganmu, namun bibirku kelu. Jika waktu masih sama, aku ingin duduk di sampingmu. Tak apa jika aku harus menahan semua kata yang harusnya aku sampaikan dan memilih mendengarmu menceritakan semua kegiatanmu. Tak apa, aku rela habiskan waktu dengan begitu. Paling tidak, aku tau kamu baik-baik saja dan bahagia. Tuan, boleh aku minta satu hal padamu?. Duduk saja sejenak di sampingku atau di hadapanku sembari kita nikmati secangkir kopi dan hujan yang masih menari-nari. Biarkan aku menatap lekat wajahmu. Menghafal setiap jengkal wajahmu itu. Jika aku terlupa pada waktu, aku masih bisa merasa lewat jemariku yang mengenal dengan detail wajahmu itu. Tuan, apapun yang terjadi dengan kita. Pun saat kita kembali menjadi asing, biarkan kau tetap menjadi lelaki kesayanganku. Tak perlu aku memaksakan hatiku untuk memilikimu. Melihatmu bahagia dan menjadi lebih baik itu sudah cukup bagiku. Aku sudah pernah menaruh harap terlalu besar, memaksa untuk memiliki hingga aku lupa ...